Pada permulaan abad pertama Hijriyah di masa tabi'in, tampilah sejumlah ulama yang membulatkan tenaga dan perhatiannya terhadap masalah qira’at, sehingga mereka menjadi imam dan ahli qiraat yang diikuti dan dipercaya.
Sesungguhnya isu penerapan syariah merupakan tantangan terbesar yang dihadapi kaum muslimin era modern ini. Sebaliknya musuh Islam berusaha sekuat tenaga menjauhkan kaum muslim dari penerapan syariah Islam. Ideologi-ideologi besar di dunia dari komunis, kapitalis sampai liberalis telah ditancapkan di seantero dunia ini tapi belum berhasil.Kini, ideologi dan tuntutan syariah Islam menjadi suatu keniscayaan.
Para pengkaji dan penghapal Al Quran harus mengikhlaskan niatnya, dan mencari keridhaan Allah SWTsemata, dan semata untuk Allah SWT ia mempelajari dan mengajarkan Al Quran itu, tidak untuk bersikap ria (pamer) di hadapan manusia, juga tidak untuk mencari dunia. Imam Al Qurthubi menulis dalam pembukaan tafsirnya “ Bab Tahzir Ahli Al Quran wa al Ilmi min Ar Riya wa Ghairihi” ia berkata:
Allah SWT berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (An Nisaa: 36). Dan Allah SWT berfirman: “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.”(Al Kahfi: 110)
Ada sejumlah sahabat yangmenguasai ilmu qiraat dan telah mengambil banyak murid untuk diajari qiraat yangmereka kuasai. Sebagian besar mereka adalah berasal dari kaum Muhajirin dan Anshar.
Orang yang menghapal Al
Quran hendaklah berakhlak dengan akhlak Al Quran.Seperti Nabi Muhammad Saw. Aisyah r.a. pernah ditanya
tentang akhlak RasulullahSAW, ia menjawab:“Akhlak Nabi Saw adalah Al Quran”.Penghapal Al Quran harus menjadi kaca yang padanya orang
dapat melihataqidah Al Quran, nilai-nilainya, etika-etikanya, dan akhlaknya, dan agar ia
membaca AlQuran dan ayat-ayat itu sesuai dengan perilakunya, bukannya ia membaca Al
Qurannamun
ayat-ayat Al Quran melaknatnya.
Timbulnya qiraat dimulai sejak peristiwa Umarbin Khattab yang berbeda pendapat dengan Hisyam bin Hakam, jalan ceritanya sebagai berikut; sahabat Umar bin Khattab tidak puas atas bacaan Hisyam bin Hakam sewaktu membaca surat al-Furqan di waktu shalat, dimana bacaan tersebut menurut Umar bin Khattab tidak benar dan bertentangan dengan apa yang telah diajarkan oleh Nabi SAW kepadanya namun, menurut Hisyam bin Hakam, bacaan tersebut juga berasal dari Nabi SAW.