| ETIKA PARA PENGHAPAL AL QUR'AN (BAG-2) |
|
|
|
| Written by Admin | |
| Monday, 01 June 2009 | |
|
Berakhlaq dengan
Akhlaq Al Quran.
Orang yang menghapal Al
Quran hendaklah berakhlak dengan akhlak Al Quran. Seperti Nabi Muhammad Saw. Aisyah r.a. pernah ditanya
tentang akhlak Rasulullah SAW, ia menjawab: “Akhlak Nabi Saw adalah Al Quran”. Penghapal Al Quran harus menjadi kaca yang padanya orang
dapat melihat aqidah Al Quran, nilai-nilainya, etika-etikanya, dan akhlaknya, dan agar ia
membaca Al Quran dan ayat-ayat itu sesuai dengan perilakunya, bukannya ia membaca Al
Quran namun
ayat-ayat Al Quran melaknatnya.
Dari Abdullah bin Amru
bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca (menghapal) Al Quran,
berarti ia telah memasukkan kenabian dalam dirinya, hanya saja Al Quran tidak
diwahyukan langsung kepadanya. Tidak sepantasnya seorang penghapal Al Quran ikut maraj bersama
orang yang marah, dan ikut bodoh bersama orang yang bodoh, sementara dalam dirinya
ada hapalan Al Quran “.
Makna kata “yajidu”
adalah dari al wajd atau al wijdan, yang berarti: amat marah
atau amat sedih. Dengan pengertian ia dikuasai oleh
perasaannya, dan hal itu mempengaruhi perilakunya.
Ibnu Mas`ud r.a.
berkata: penghapal Al Quran harus dikenal dengan malamnya saat manusia tidur, dan dengan siangnya saat manusia
sedang tertawa, dengan diamnya saat manusia berbicara, dan dengan khusyu`nya saat
manusia gelisah. Penghapal Al Quran harus tenang dan lembut, tidak keras, tidak
sombong, tidak bersuara kasar atau berisik dan tidak cepat marah.
Ibnu Mas`ud r.a.
seakan sedang berbicara kepada dirinya sendiri, karena ia adalah salah seorang imam penghapal Al Quran, dan ia menjadi
orang yang betul-betul sesuai dengan prediket penghapal Al Quran. Ibnu Mas`ud juga mengecam orang-orang yang: Al Quran
diturunkan kepada mereka agar mereka mengamalkan isinya, namun ia hanya menjadikan kegiatan
mempelajari Al Quran itu sebagai amalnya! Salah seorang dari
mereka dapat membaca Al Quran dari awal hingga akhirnya tanpa salah satu
huruf-pun, namun ia tidak mengamalkan apa yang terdapat dalam Al Quran itu!
Seorang zahid yang
terkenal; Fudhail bin `Iyadh, berkata: pembawa (penghapal) Al Quran adalah pembawa bendera Islam, maka ia tidak
boleh bermain-main bersama orang-orang yang senang bermain, tidak lupa diri bersama
orang yang lupa diri dan tidak bercanda bersama orang yang bercanda, sebagai bentuk
penghormatan terhadap hak Al Quran.
Ia berkata: seorang
penghapal Al Quran harus tidak butuh kepada orang lain, tidak kepada para khalifah, dan tidak pula kepada orang
yang lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, ia harus menjadi tumpuan kebutuhan orang.
Sebagian salaf
berkata: “ada seorang hamba yang saat memulai membaca satu surah Al Quran, maka
malaikat akan terus berdoa baginya hingga ia selesai membacanya. Dan ada orang
yang membaca satu surah Al Quran, namun malaikat terus melaknatnya
hingga ia selesai membacanya”. Seseorang bertanya kepadanya:
“mengapa bisa terjadi seperti itu?”. ia menjawab: “Jika ia menghalalkan apa
yang dihalalkan Al Quran dan mengharamkan apa yang diharamkan Al Quran maka
malaikat akan berdoa baginya, namun jika sebaliknya maka malaikat akan
melaknatnya!”.
Sebagian ulama
berkata: ada seseorang yang membaca Al Quran dan ia sedang melaknat dirinya sendiri, dengan tanpa sadar. Ia membaca:
“ala la`natullah `ala azh zhaalimiin” (sesungguhnya laknat Allah diberikan
kepada orang-orang zalim), sementara ia adalah orang yang zalim! dan membaca “
ala la`natullah ala al mukdzibiin” (sesunguhnya laknat Allah ditimpakan kepada
para pendusta), sementara ia termasuk golongan yang mendustakan itu!
Inilah makna perkata
Anas bin Malik r.a.: Ada orang yang membaca Al Quran, dan Al Quran itu melaknatnya! Al Hasan berkata: Kalian menjadikan membaca Al Quran
sebagai stasion-stasion, dan menjadikan malam sebagai unta (kendaraan), yang
kalian kendarai, dan dengannya kalian melewati stasion-stasion itu. sementara orang-orang
sebelum kalian jika melihat risalah-risalah dari Rabb mereka, maka mereka segera
mentadabburinya pada malam hari, dan melaksanakan isinya pada siang hari!
Maisarah berkata: Yang
aneh adalah Al Quran yang terdapat dalam diri orang yang senang melakukan perbuatan dosa!
Keanehan itu terjadi karena Al Quran berada di satu
lembah, sementara akhlak penghapal Al Quran itu dan perilakunya berada di lembah
lain! Abu
Sulaiman Ad Daarani berkata: Neraka Zabbaniah lebih cepat dimasuki oleh
penghapal Al Quran –yang melakukan maksiat kepada Allah SWT—dibandingkan
penyembah berhala, saat mereka melakukan maksiat kepada
Allah SWT setelah membaca Al Quran!
Sebagian ulama
berkata: Jika serang anak Adam membaca Al Quran kemudian ia berlaku buruk,
setelah itu ia kembali membaca Al Quran, Dia berkata kepada orang itu: “Apa
hakmu membaca firman-Ku, sementara engkau berpaling dari-Ku?!”. Ibnu Rimah
berkata: Aku menyesal telah menghapal Al Quran, karena aku mendengar bahwa
orang-orang yang menghapal Al Quran akan ditanyakan dengan pertanyaan-pertanyaan
sama yang diajukan kepada para Nabi pada hari kiamat!.
Tidak aneh jika para
penghapal Al Quran dari kalangan sahabat adalah mereka yang berada di barisan
pertama saat shalat di Masjid, yang berada di garis terdepan saat jihad, dan
orang yang pertama melakukan kebaikan di tengah masyarakat. Dalam sebagian
peperangan perluasan wilayah Islam, ada orang yang berteriak:
wahai para penghapal surah Al Baqarah, hari ini sihir
tidak telah lenyap! Seperti terjadi pada perang Yamamah yang terkenal dan dalam perang
melawan kelompok murtad. Huzaifah berkata pada hari yang menegangkan itu: wahai
para penghapal Al Quran, hiasilah Al Quran dengan amal perbuatan kalian. Pada hari Yamamah (peperangan melawan gerakan riddah)
Salim maula Abi Huzaifah, saat ia membawa bendera pasukan Islam, ditanya oleh kaum
Muhajirin: “Apakah engkau tidak takut jika kami berjalan di belakangmu?” Ia menjawab:
“Sepaling jelek penghapal adalah aku, jika aku sampai berjalan di belakang kalian
dalam perang ini!”.
Dalam peperangan
Yamamah, saat memerangi Musailimah al Kazzab, sejumlah besar penghapal Al Quran mendapatkan mati syahid, karena
mereka selalu berada di barisan terdepan. Hingga ada yang mengatakan: mereka
berjumlah tujuh ratus orang. Inilah yang mendorong dilakukannya pembukuan Al Quran,
karena ditakutkan para penghapal Al Quran habis dalam medan jihad.
Cara menghapal mereka
membantu mereka untuk melaksanakan isi Al Quran itu. Perhatian mereka tidak hanya untuk menghapal kalimat-kalimat
dalam Al Quran itu saja. Namun yang mereka perhatikan adalah memahami makna dan
mengikutinya, baik dalam bagian perintah maupun larangan.
Imam Abu Amru Ad Dani
menulis dalam kitabnya “Al Bayan” dengan sanadnya dari Utsman dan Ibnu Mas`ud serta Ubay r.a.:
Rasulullah SAW membacakan kepada mereka sepuluh ayat, dan mereka tidak
meninggalkan ayat itu untuk menghapal sepuluh ayat selanjutnya, hingga mereka
telah belajar untuk menjalankan apa yang yang terdapat dalam sepuluh ayat itu.
Mereka berkata: kami mempelajari Al Quran dan beramal dengannya sekaligus.
Abdurrazzaq meriwayatkan
dalam Mushannafnya dari Abdurrahman As Sulami, ia berkata: Kami, jika
mempelajari sepuluh ayat Al Quran, tidak akan mempelajari sepuluh ayat
selanjutnya, hingga kami mengetahui halal dan haramnya, serta perintah dan larangannya
(terlebih dahulu).
Dalam kitab Muwath-tha
Malik ia mengatakan: disampaikan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar mempelajari surah Al Baqarah selama
delapan tahun. Hal itu terjadi karena ia mempelajarinya untuk kemudian mengamalkan
kandungannya, ia memerintahkan dengan perintahnya, dan
melarang dari laranganlarangannya, dan berhenti pada batas-batas yang diberikan oleh Allah
SWT.
Oleh karena itu Ibnu
Mas`ud berkata: Kami merasa kesulitan menghapal Al Quran, namun kami mudah menjalankan isinya. Sedangkan
orang setelah kami merasakan mudah menghapal kalimat-kalimat Al Quran, namun
mereka kesulitan untuk menjalankan isinya.
Dari Ibnu Umar ia
berkata: Orang yang mulia dari sahabat Rasulullah SAW dari generasi pertama
umat ini, hanya menghapal satu surah dan sejenisnya, namun mereka diberikan
rezki untuk beramal sesuai dengan Al Quran. Sementara generasi akhir dari
umat ini, mereka membaca Al Quran, dari anak kecil hingga
orang buta, namun mereka tidak diberikan rezki untuk mengamalkan isinya!
Mu`adz bin Jabal
berkata: “Pelajarilah apa yang kalian hendaki untuk diketahui, namun Allah SWT
tidak akan memberikan pahala kepada kalian hingga kalian beramal!”. |
| < Prev | Next > |
|---|


